Pernahkah suatu ketika kita menatap
ibu kita yang sedang terlelap tidur?. Wajah lelahnya yang mulai berkerut
terlihat sangat damai. Tangannya yang dulu halus sekarang tak lagi bisa
dikatakan halus. Kasar karena membanting tulang demi kebahagiaan kita. Coba
rasakan. Dalam tiap hembusan nafas tidurnya ada lagu pengorbanan yang
kesemuanya telah hilang berganti kata ikhlas. Ikhlas demi buah hatinya
tercinta. Ikhlas demi kebahagiaan anaknya. Itulah pengorbanan yang indah.
Pengorbanan seorang ibu.
Sambil mencium kening ibu, cobalah
membayangkan. Sembilan bulan kita dikandungnya dengan susah payah. Sembilan
bulan kita dibawanya kemanapun dia pergi. Perut membesar dengan ketidaknyamanan
yang tidak mungkin bisa dibagi dengan siapapun. Badan lelah tak pernah
dihiraukan demi buah hati yang dikandungnya. Duduk tak enak. Tidur tak nyenyak.
Semuanya serba tidak nyaman hanya karena ingin memberikan kenyamanan pada janin
yang dikandungnya.
Masa-masa awal kehamilan adalah masa
yang paling rawan. Ibu tidak bisa begitu saja menikmati kegiatan yang selama
ini dijalaninya. Berjalan cepat, berlari, membawa beban berat, ataupun
pekerjaan fisik yang dapat membahayakan janinnya. Dia juga tidak bisa menikmati
makan-makanan kesukaannya. Seperti sea food, makanan mentah, ataupun makanan
larangan bagi ibu hamil. Ibu rela meninggalkannya demi bayi yang sedang
dikandungnya.
Baca Juga Jika Harus Menjadi Ibu Kedua
Baca Juga Jika Harus Menjadi Ibu Kedua
Belum lagi masalah mual dan muntah
yang sering dialaminya. Badan terasa lemas, emosi yang tidak stabil, cepat
marah, manja, sering cemburu adalah situasi yang sebenarnya kurang nyaman untuk
dirasakan. Tapi ibu mencoba melaluinya demi janin yang dikandungnya.
Saat usia kehamilan sudah di atas
enam bulan, keadaan janin sudah mulai stabil. Detak jantung bayi telah
terdengar. Ibu mulai bahagia. Tapi, dibalik kata bahagia itu masih tersimpan
rasa was-was dan kehawatiran. Apakah perkembangan janinnya berjalan normal?.
Segala pertanyaan tentang kehawatiran terus muncul di benak. Tapi ibu mencoba
untuk berfikir baik-baik saja. Saat bayi di perut terasa menendang-nendang,
bergeser kesana-kemari, aktif memberikan gerakan. Tapi sayangnya terkadang hal
tersebut membuat ibu tidak nyaman. Belum lagi masalah perut yang membesar
mengikuti ukuran janin.
Tiap bulan ibu rajin memeriksakan
diri ke dokter. Apapun kata dokter, tak pernah dilanggarnya. Ibu patuh sepatuh
patuhnya demi keselamatan bayi yang dikandungnya. Sekalipun saran itu
memberangus kebebasannya. Ibu rela. Ibu ikhlas.
Setelah sembilan bulan dia lalui
dengan ketegaran dan kesabaran, tiba saatnya melahirkan,Pengorbanan seorang ibu masih tetap diperlukan. ibu harus berjuang
dengan pertaruhan nyawa satu-satunya. Bertaruh dengan selembar nyawa yang hanya
satu-satunya demi bayi yang sama sekali belum pernah berkorban untuknya.
Perjuangan melahirkan nyaris di batas antara hidup dan mati. Tapi ibu tak
pernah menyerah. Ibu selalu bertahan berusaha sekuat tenaga pada sisa-sisa
nafas yang masih ada. Bayiku harus hidup. Anakku harus selamat.
Begitu
mulianya pengorbanan seorang ibu
hingga Alloh SWT berfirman dalam surat Al-Ahqaf :15
“Kami
perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu
bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya
dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh
bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh
tahun ia berdoa: Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang
telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat
berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan
(memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau
dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
Baca Juga Tetap Modis Meski Tak Lagi Muda
